Tags

Prolog: Sekedar menguak nyata*
Oleh: Eliza Eka Nurmala**

Mahasiswa, menurut Rama Pratama yaitu kaum yang ingin menjadi kekuatan penyeimbang (balancing power), adalah sekelompok muda yang pernah mendapatkan kepercayaan dari rakyat melebihi kepercayaan rakyat kepada pemimpinnya sendiri. Dielukkan, diagungkan, dicatat dalam sejarah setiap geriknya. Setidaknya inilah yang sempat terjadi akhir tahun 90an. Ketika kedasyatan kekuatan pergerakan mahasiswa dapat mengalahkan rezim tirani orde baru (dengan dukungan banyak pihak tentunya).

Dan di dekade baru ini kemanakah dukungan rakyat itu? Lunturkan kepercayaan meraka? Tak taulah, menurut pengamatan saya pribadi, masayrakat kini seakan muali tak menggubris aksi mahasiswa, setali dua uang dengan “petinggi petinggi” kita. Secara sederhana terlihat ketika kita melakukan sebuah aksi, yang bahkan sebuah aksi damai, sebagian rakyat bukannya bertanya “apa yang terjadi ini?” tapi berpendapat “ngapain sih ni mahasiswa, bukannya belajar malah bikin jalan macet!” aduhai, tak taulah mereka kalau nasib mereka yang kita perjaungkan.

Masyarakat sepertinya kini mulai sepaham dengan pendapat seorang budayawan Ehma Ainun Najim, “jangan berharap aksi mahasiswa bisa mengubah keadaan”. Sebuah ungkapan yang menurut saya cukup untuk menggelitik akal dan nurani ke-“aktivisa”-an kita. Lalu, apakah kita berdiam diri dengan ini? Atau mulai berbenah dan bergerak?ya, bergeraklah! Bergerak dalam PERGERAKAN MAHASISWA.

Rumusan sederhana: Kuliah, kesatuan, dan kerakyatan

Turun ke jalan tak lupakan jam kuliah. Idealnya orang-orang yang tejun ke dalam dunia pergerakan mahasiswa tidak melupakan sisi akademisnya. Judul diri kita adalah PERGERAKAN MAHASISwa. “Mahasiswa” inilah kekuatan inti kita. Jadi bukanlah mahasiswa yang bertanggung jawab jika tidak seirus dalam kuliahnya. Alangkah indah jika pergerakan mahasiswa tak selalu memberatkan pada aksi turun ke jalan tapi juga pergerakan yang sifatnya ilmiah menemukan serum anti korupsi misalnya atau membuat survey kondisi real ekonomi rakyat dan advokasikan dengan kecerdasan intelektual muda sehingga dapat menggoyahkan kelalaian pemerintah. Tunjukkan kontribusi konkrit kita pada rakyat sebagai bagian dari frase kata pergerakan mahasiswa.

Pergerakan mahasiswa selayaknya merdeka, merdeka dari cengkraman politik praktis, imbalan uang, dan bebas dari kepentingan diluar idealisme mahasiswa. Tetap focus pada moral force dan penjunjungan kepentingan rakyat. Pergerakan mahasiswa akan selalu ada dari saat kebijakan pemerintah kontra rakyat hingga kebijakan pemerintah itu pro rakyat selama Negara kita berasaskan demokrasi, artinya mahasiswa akan terus ada sebagai bagian dari lima pilar demokrasi itu sendiri. Pendinamisasisan pergerakan mahasiswa penting sebagai nyawa dari pergerakan itu sendiri. Jangan sampai rakyat bosan dengan hal hal konstan yang dilakukan mahasiswa sehingga malah menimbulakan ketidakpedulian rakyat terhadap aksi mahasiswa.

Mahasiswa dengan segala upayanya harus bergerak dengan rasa kesatuan. Kesatuan juga pernah mengumpulkan pemuda Indonesia dalam SUMPAH PEMUDA. Bahkan pepatah lama pun berbunyi “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Ketika rasa kesatuan sirna dalam ruh pergerakan maka yang akan terjadi adalah adanya pengagungan egoime pribadi atau kelompok. Egoisme pribadi atau kelompok ini sebenarnya akan melemahkan kedudukan mahasiswa sendiri ketika akan menghadapi isu. Contohnya ketika terjadi penyikapan UU BHP di UI. Ada BEM Fakultas yang tidak sejalan dengan BEM UI dan dengan nyata nyata mengontraskan diri dengan menolak kajian BEM UI dan BEM fakultas lainnya. Sehingga yang terjadi adalah aksi kontra BHP dicap oleh “orang langit” hanya untuk kepentingan lembaga kemahasiswaan (BEM UI) saja bukan untuk rakyat. Lebih dari itu, rasa kesatuan bukanlah berarti mematikan variasi atau corak yang ada dalam badan pergerakan mahasiswa. Sederhananya, tiap badan pergerakan yang ada mempunyai ciri pergerakan sendiri. Contohnya saja, SIAGA FISIP yang bergerak dengan packanging isu lebih penting dari isi untuk mengimbangi karateristik mahasiswanya, FIB yang bergerak dengan aksi lebih berseni dan bernilai kebudayaan, BRIGADE UI yang terkenal dengan sisi militernya dalam bergerak ,dan lainnya. Semua gerakan pasti akan punya khasnya. Tapi ada satu yang akan selalu sama dan menyaktukan yaitu IDEALISME MAHASISA

Epilog: optimisme dan Harapan

Diakhir tulisan sederhana ini, saya kutip sebuah uraian kata dari seorang pejuang 98, seorang Ketua/Sekjen BPM UI yang juga menjadi Koordinator Aksi Pendudukan gedung DPR/MPR ditahun 1998, Heru Cokro dalam buku Pendudukan Gedung DPR/MPR: Kesaksian Aktivis Mahasiswa 1998 yang dengan optimisme dan harapannya berkata, “Sesungguhnya, mahasiswa semestinya tetap menjadi kaum muda yang selalu mengelola ketegangan antara apa yang ada dan apa yang seharusnya ada, sehingga mereka tetap bergerak dan memikirkan nasib bangsanya”

HIDUP MAHASISWA!!!
HIDUP RAKYAT INDONESIA!!!


*ditulis sebagai bagian dari kaderisasi BINGU 2008
**Kini menjadi bagian dari BINGU 2008

Referensi:
Cokro, Heru. Pendudukan Gedung DPR/MPR: Kesaksian Aktivis Mahasiswa 1998. Teraju, Jakarta. 2008
Fadhly, Fahrus Zaman (editor), Mahasiswa Menggugat: Potret GErakan Mahasiswa Indonesia 1998. Pustaka Hidayah, Bandung. 1999

http://twyunianto.blog.friendter.com, “Disorientasi Peran Kepemudaan”.

http://www.ihkwahmuda.worpress.com/2007/04/01/peran-mahasiswa-sebagai-kekuatan-moral/, “Peran Mahasiswa Sebagai Kekuatan Moral”.