Tags

“Pengobatan Tradisional; Butuh ‘Nafas’ Bantuan”*
Oleh: Eliza Eka Nurmala**

Berdasarkan hasil Susenas 2001, menunjukkan 31,7% masyarakat Indonesia menggunakan obat tradisional dan 9,8% mereka mencari pengobatan dengan cara tradisional untuk mengatasi masalah kesehatannya. Oleh karena itu pembinaan dan pengembangan pengobatan tradisional perlu dilakukan dan diarahkan, agar menjadi pengobatan yang dapat dipertanggungjawabkan, aman, bermutu, dan bermanfaat. [1]

Pengobatan tradisional di Indonesia punya potensi untuk terus berkembang. Dilihat dari ketersediaan bahan baku untuk obat tradisional, Dari 40 000 jenis flora yang ada di dunia sebanyak 30 000 jenis dijumpai di Indonesia dan 940 jenis diantaranya diketahui berkhasiat sebagai obat yang telah dipergunakan dalam pengobatan tradisional secara turun-temurun oleh berbagai etnis di Indonesia. Menurut Ditjen POM(1991) ada 283 spesies tumbuhan obat yang sudah terdaftar digunakan oleh industri Obat Tradisional di Indonesia. [2]

Tingkat ekonomi masyarakat Indonesia membuka kesempatan yang seluas-luasnya untuk pengobatan tradisonal. Tarif yang dikenakan untuk pasien pengobatan tradisional cenderung lebih murah. Hal ini yang menjadi alasan utama kebanyakan orang Indonesia untuk memilih pengobatan tradisional.

Kecenderungan tren masyarakat dunia untuk kembali ke alam (back to nature) dilihat juga sebagai potensi berkembangnya pasar pengobatan tradisional di Indonesia. Negara maju menyebut fenomena ini sebagai “gelombang hijau baru” (new green wave). Dengan tren kembali ke alam, masyarakat akan mecoba mencari alternatif pengobatan yang jauh dari bahan kimia. Bahan alami yang dinilai lebih aman kemudian gencar dicari sebagai alternatif solusi kesehatan mereka.

Fenomena maraknya masyarakat Indonesia yang mendatangi pengobatan tradisonal menunjukkan tingginya kepercayaan masyarakat Indonesia pada dunia pengobatan tradisonal. Namun sayang, fenomena ini juga diselipi oleh kisah kisah malpraktek yang bertopeng dari pengobatan tradisional yang dilakukakan. Apakah pengobatan tradisinal itu? Lalu seperti apakah pengendalian praktek pengobatan tradisional ini?

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tentang Penyelenggaraan Pengobatan Tradisional menyebutkan pengertian pengobatan tradisional (Battra) sebagai pengobatan dan atau perawatan dengan cara, obat dan pengobatnya yang mengacu kepada pengalaman, ketrampilan turun menurun, dan atau pendidikan/pelatihan, dan diterapkan sesuai dengan dorma yang berlaku dalam masyarakat. Pengobat tradisional diklasifikasikan dalam jenis keterampilan, ramuan, pendekatan agama dan supranatural.

Harus Terdaftar

Untuk memastikan bahwa pengobatan tradisional yang tumbuh berkembang di tengah-tengah masyarakat adalah pengobatan tradisional yang dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya, maka sesuai dengan Pasal 4 Keputusan Menkes No. 1076/Menkes/SK/VII/2003 tanggal 24 Juli 2003 tentang Penyelenggaraan Pengobatan Tradisional, semua pengobat tradisional wajib mendaftarkan diri kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat untuk memperoleh Surat Terdaftar Pengobat Tradisional (STPT).

Dengan adanya STPT ini, maka praktek pengobatan tradisional dapat terus dipantau oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat sehingga diharapkan dapat memberikan jaminan keamanan bagi masyarakat penggunanya.

Dalam SK ini ditetapkan bahwa kewajiban pengobat tradisional (Battra) mendaftar ke Dinas Kesehatan setempat untuk memperoleh STPT, kewajiban untuk menjelaskan kepada pasiennya mengenai tindakan yang diambil dan larangan berpromosi secara berlebihan serta informasi yang menyesatkan. Apabila melanggar, sanksinya denda hingga Rp 2 miliar.

Lebih jauh dalam Pasal 9 dinyatakan pula bahwa pengobat tradisional yang metodenya telah memenuhi persyaratan penapisan, pengkajian, penelitian dan pengujian serta terbukti aman dan bermanfaat bagi kesehatan dapat diberikan Surat Ijin Pengobat Tradisional (SIPT) oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat. [3]

Ternyata Banyak yang Belum Legal

Pengobatan tradisional meski banyak diminati juga banyak dicurigai. Banyak yang masih menggap bahwa pengobatan tradisional hanya berlandaskan sugesti. Hal ini dikarenakan tidak jelasnya status pengobatan tradisional tersebut, terbukti dari total 681 tempat pengobatan tradisional hanya 187 yang berstatus terdaftar. Sampai saat ini, perizinan dan pendaftaran tempat pengobatan tradisional masih berpegang pada SK Menteri Kesehatan no 1076 tahun 2003 tentang penyelenggaraan pengobatan tradisional.

Alasan masyarakat tidak mendaftarkan diri bermacam-macam. Pertama karena tidak tau. Kedua karena ada sebagian masyarakat yang pernah tertipu mengurus izin namun tidak pernah keluar, karenanya mereka kapok mengurus izin. Ada juga yang mengatakan mereka repot menjalankan usahanya sehingga tidak punya waktu untuk mendaftar. Dan yang paling banyak adalah pura-pura tidak tau karena merasa tidak perlu. [4] Entah siapa yang perlu disalahkan, warga yang malas mendaftar atau pemerintah yang kurang tanggap? Yang perlu menjadi fokus utama adalah keamanan dan keselamatan pasien yang berobat.

Pada Akhirnya ‘Nafas’ bantuan dibutuhkan

Bernafas dibutuhkan oleh semua makhluk hidup. Begitu juga nafas dibutuhkan oleh pengobatan tradisional. Nafas yang penulis maksud disini adalah SIPT dan STPT. Butuh bantuan bagi para pengobat tadisional untuk mendapatkan kemudahan perizinan dan pendaftaran.

Kerelaan pengobat tradisonal untuk mengikuti regulasi pengobatan tradisional seperti yang tertera pada SK menteri dibutuhkan guna mendapatkan surat izin. Pemerintah juga hendaknya perlu melakukan jemput bola dalam hal perizinan pengobatan tradisional dan hendaknya tidak hanya mengandalkan kesediaan masyarakat untuk rela mendaftarkan tempat praktiknya.

Pada akhirnya, kita tidak akan merelakan begitu saja semua potensi perkembangan pengobatan tradisional terbuang sia-sia. Kesinergisan antara pemerintah dan masyarakat demi kemajuan pengobatan tradisional adalah kunci kesuksesan pengobatan tradisional di Indonesia demi kehidupan masyarakat indonesia yang lebih sehat dan bermartabat.

[1] Haris Fadilah. Asosiasi untuk Awasi Pengobat Tradisional. http://kbi.gemari.or.id. 2004
[2] Dorly. Potensi Tumbuhan Obat Indonesia dalam Pengembangan Industri Agromedisin. Makalah pribadi pengantar falsafah sains program S3 IPB. 2005
[3] Tyas. Surat Terdaftar Pengobat Tradisional (STPT) dan Surat Ijin Pengobat Tradisional (SIPT). http://bandungacupunture.wordpress.com. 2008

[4] Nofi Triana Firman. Pengobatan Tradisional Tak Dapat Dipertanggungjawabkan Secara Hukum. www.tempointeraktif.com. 2005

* naskah disusun dalam rangka 4th NMJU competition
**penulis adalah mahasiswa SI reguler FKM UI peminatan Kesehatan Lingkungan angkatan 2008.