Tags

tertohok pagi ini menerima balasan milis dari seorang teman yang sekarang sudah berada di USA. tadi pun saya membaca pengumuman sebuah kompetisi dan salah seorang rekan saya kembali berjaya didunia tulis menulis…kedua hal itu, mimpi saya..

Dikala masa saya melihat kesuksesan rekan atau siapaun itu yang berhasil meraih mimpi saya, hanya ada miris didada, sedih, cemburu, iri, mupeng dan sejenisnya. mereka bisa mendapatkan semua itu. lalu saya? saya masih terjebak pada kesuksesan silam. menganggap santai semua hal, menganggap saya bisa melakukannya dalam semalam. Robbi, alangkah sombong diri ini..kadang mengumpat dalam hati ” tinggal tunggu aja sa, masa penyesalan mendalam. mungkin ketika modem tak ada pulsa lagi atau mungkin ketika laptop sudah tidak ditangan. rasakan, rasakan” nauzubillah..

entahlah, mungkin saya memang orang yang sangat terlena dengan masa lalu. dulu memang, mudah saya genggam piala, saya sangat bangga akan diri saya. saya kibarkan jilbab lebar di depan ucapara bersama gubernur. wow!romansanya masih terasa.

namun kini, siapa saya? bahkan saya hampir selalu melewatkan kompetisi yang ada. tak cukup rasanya waktu yang saya punya. dikala ada waktu untuk bersantai, saya benar-benar menggunakannya untuk bersantai. “istirahat sebentar” pikir saya. ya, kata seorang teman manjakanlah sebentar diri yang lelah karena aktivitas kampus.

Padahal jika berkaca pada kesempatan yang Allah beri, sungguh saya munafik. silam, ketika SMA, saya hanya punya komputer butut yang bervirus tak terhitung. setiap ada kompetisi saya harus pergi kewarnet, mengahbiskan jatah makan saya untuk mencari bahan tulisan. pergi ketika malam, rasa lelah saya tahan. tak jarang juga saya tertidur dikabin warnet, lelah mata memandang layar komputer. proses pengetikan yang lebih sering saya lakukan di rental dari pada di kosan karena komputer saya terhitung amat sangat lemot untuk mengerjakan pengetikan cepat. tentu saya harus mengeluarkan uang lagi untuk penyewaan ini. pengeprintan dimulai, beberapa kali saya pulang lebih dari jam 11 malam ke kosan karena harus antri printer di tempat print.

kini, semua kemudahan Allah beri, orang tua mengabulkan semua keinginan saya  yang awalnya memang saya niatkan untuk prestasi saya. tapi apa buktinya? belum banyak, belum sama sekali. sungguh malu jika ingat dulu, ketika penghasilan orang tua saya masih belum seperti sekarang. ketika tak jarang saya harus menahan lapar dan hanya memandang makanan dikantin lewat jendela masjid tanpa saya bisa membelinya. ketika setiap minggu saya menangis tak tahu harus berbuat apa untuk membantu orang tua saya membiayai saya yang hidup merantau. sungguh malu, malu melihat rezeky yang Allah beri kini, Laptop dan modem seharunya cukup menjadi motivasi saya.

rangkaian mimpi memang sudah saya susun mulai menang lagi lomba nulis sampai keluar negeri. tapi entah kenapa atau entah setan apa yang menggelayuti saya. badan tak bergerak, otak tak berfikir. tak jarang target tulisan saya tulis besar di dinding atau bahkan saya jadikan background desktop laptop. tapi sungguh sulit mencari waktu pengerjaan. kalau bertemu waktu senggang, saya merasa saya harus mengistirahatkan diri saya.  hingga lama, hingga lupa.

Ayo bangkit sa!bangkit dari memanjakan diri, bangkit dari mengasihani kelelahan diri. ingat, ketika kau keras pada dunia, maka dunia akan lembut padamu, tapi ketika kau lemah pada dunia, makan dunia akan kejam padamu.

bunyi kipas kamar kosan, 16 Agustus 2010
10.16pm