Tags

Sampai saat ini baku mutu air di Indonensia yang tertulis dalam KEMENKES masih mengadopsi baku mutu buatan WHO. well, edaran WHO memang dijadikan acuan baku mutu standar diseluruh dunia. tapi ada yang tidak tepat disana. bahwa standar baku mutu setiap negara sesungguhnya berbeda beda tergantung intake yang masuk. sedangkan data dari WHO kebanyakan mengambi sampel orang Amerika yang bahkan rata-rata tinggi badannya berbeda jauh dengna kita. Sebenernya, point pentingnya adalah hingga saat ini KEMENKES ini tidak ada berupaya untuk mengubah baku mutu itu sehingga sesuai dengan masyarakat Indonesia. pengubahan baku mutu ini tentu penting, demi kesehatan masyarakat seluruh Indonesia!

contoh kongkrit:

untuk Arsen. WHO memiliki baku mutu standar sebesar 0,01mg/L. KEMENKES pun mencantumkan angka serupa untuk baku mutu Arsen di Indonesia. padahal setelah dihitung dengan mekanisme ARKL (Analisis Resiko Kesehatan Lingkungan), baku mutu orang Indonesia seharusnya 0,001mg/L.

Trus, Kenapa El?Ga papa kan?

Isssh, ya papa lah! nih ya, kalo misalnya standar dari KEMENKES Arsen yang kita asup sebesar 0,01. Nah, pas diukur arsen kita udah 0.009. kita masih dianggap aman dong? ga diitung sakit? iya kan?. Nah, padahal sebenarnya dengan besar 0,006 tubuh kita sudah mulai bereaksi alias sakit. di batas itu, kita tidak boleh lagi terpajan Arsen, apapun alasannya agar badan kita selamat. nah, karena di standar batasnya tuh 0,01. ya udah. pas 0,006; 0,008; 0,009; dst. kita lanjut terus konsumsi arsen (secara sengaja jika memang ditempat kerja atau secara tidak sengaja dalam asupan lain ex: kerang, dll) . Kan bisa berabe tuh beberapa tahun kedepan, jadilah kanker,,,astahfirullah…

Bagaimana bisa seperti itu?

Jawabannya mudah, karena untuk menghitung resiko keterpajanan sebuah komunitas. kita harus menyesuaikan dengan berat badan rata-rata dan angka harapan hidup komunitas tersebut. untuk orang indonesia, angka harapan hidup berkisar di 70an dan berat badan aman (tidak rentan) adalah diatas 55KG. (oy, tinggi badan orang indonesia idealnya 160 keatas, jadi dengan tinggi badan segitu, berat diatas 55, bukan obesitas tapi normal)

Ayo, Ayo, bersama-sama membenahi BAKU MUTU  INDONESIA!

jangan ‘adopsi mutlak’ angka WHO lagi!

Saatnya kita buat perhitungan sendiri

yang paling sesuai dengan warga NKRI

Hidup Rakyat Indonesia!!!!


sangat tertarik dengan mata kuliah ARKL (Analisis Resiko Kesehatan Ligkungan) dan berniat menjadikan ini skripsi. walau hanya dalam mimpi. (PA saya beda mahzab dengan ARKL, beliau lebih cenderung suka skripsi dengan study Epidemiologi, mau ga mau, kalo mau cepet lulus ya harus nurut PA, hehe *pasrah). Tapi semoga bisa diadvokasi, aaamiin.. ARKL, come to me, please!😀 *doakan

picture taken from: http://gelapmentari.wordpress.com/