Mengisi waktu ramadhan di lampung dengan mengajar TPA di masjid tempat saya kecil dulu. sungguh menyenangkan rasanya. menyesalkan juga kenapa ga dari tahun kemaren aja ya, haha. alhamdulillah, niat yang sempet ketunda setahun ini akhirnya bisa terealisasikan🙂

 

setiap anak memiliki cerita. begitu juga murid-murid saya. setiap hari, tingkah mereka lucu. tidak selalu, kadang ada yang nyebelin, nanyaaaaaaaa mulu. padahal saya lagi ngajarin ngaji anak lain. ada juga yang kerjannya nempel ke saya. tu bocah tiduran di kaki saya, ya padahal saya lagi ngajar. haha. tapi so far, mereka excited sama saya. terbukti mereka rebutan saya ajar, hihihihi. *kepedean*

 

ada dua orang yang juga menarik menurut saya. dua anak laki2 ini baru saya lihat dihari kedua saya mengajar. pertama namanya Pema. anaknya ceria, facenya lampuuung aseli. karena facenya yang lampung asli agak cina2 korea2 jepang2 gitu makanya saya heran. setahu saya, di daerah sini ga ada orang lampungnya. ni anak dari mana ya?. yang kedua namanya Dani. anak ini malu-malu kucing. dia ceria, tapi kalo dilirik langsung nunduk senyum2 malu, hihihi.

 

suatu hari, saya menyempatkan diri mampir ke panti asuhan dekat masjid. saya ga nyangka, si Pema dan Dani disana. mereka berdua lagi main pedang pedangan sama satu anak yang aku rasa usianya lebih dewasa dari mereka. mereka menyapaku, aku sapa balik. mmm, kenapa ni bocah dua ada disini yak? apalagi maen?

 

saya penasaran, sungguh. seharian ini, pas ngajar ngaji, saya diem2 sering lirik mereka berdua. mereka ceria sungguh, ada rasa cinta untuk mereka. mereka pintar, kemarin mereka cerita mereka juara kelas disela2 ngaji. dan setelah cari tahu sana sini, bener feeling saya, mereka memang tinggal di panti asuhan. Rabb, sedih…

 

Entahlah, tapi rasanya sedih sekali. sedih sekali mendengar alasan mereka masuk panti. apalagi memikirkan akankah mereka berdua tetap bersekolah setelah ini? dan saya tibat-tiba kesal sama diri saya sendiri. I can’t help them! kecuali dengan sharing ilmu2 ini, saya tidak bisa berbuat apa-apa. kadang terfikir, ah, seandainya saya sudah bekerja, harta sudah mencukupi sedekah ke orangtua dan keluarga, rasa-rasany ingiiiiiiiin sekali menyantuni anak-anak pantii yang pintar seperti mereka berdua. memastikan mereka makan bergizi, sekolah tinggi, dan ilmu agama terpenuhi. tapi apa daya, kalau lihat kondisi saya sekarang, saya kesal sama diri saya sendiri.

 

Pema, Dani, bu guru hanya bisa memberi kalian doa. doa agar kalian selalu dalam lindunganNya. agar kalian tak berhenti bermimpi, agar kalian bisa meningkatkan derajat kalian sendiri dengan tangan kalian sendiri, agar Allah swt lebihkan diri kalian diatas umat ini. Rabb, saya menyayangi mereka seperti saudara sendiri. jaga mereka, sayangi mereka, karena Engkau sebaik-baik penjaga. aamiin